Senin, 18 Mei 2015

NARASI menjadi DESKRIPTIF

Prioritaskan Proyek untuk Tenaga Kerja Indonesia

Proyek infrastruktur yang sekarang di programkan pemerintah ini merupakan proyek yang dapat menyerap tenaga kerja atau pengangguran. Akan tetapi ada seorang ahli ekonomi dan politik dari Labor Institute Indonesia bernama Andy William Sinaga menyarankan pemerintah harus menyaring tenaga kerja yang masuk dengan seleksi berupa keahlian, jenis pekerjaan yang pernah dilakukan, dan di prioritaskan bagi para pekerja dalam negeri.

Apalagi, pemerintah sudah memiliki regulasi yang mengatur tenaga kerja asing yang berisi peraturan Menteri  Tenaga Kerja dan Transmigrasi  Nomor 2 Tahun 2008 yang diperbarui menjadi Nomor 12 Tahun 2013.

Pemerintah perlu membatasi tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia.  Akan tetapi investasi dari perusahaan asing juga memiliki manfaat, yaitu terbukanya lapangan pekerjaan yang bermartabat bagi tenaga kerja lokal, potensi serapan tenaga kerja lokal dapat berjalan baik.


Tenaga kerja lokal yang tersedia haruslah memiliki keahlian yang mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Hanya tenaga kerja yang memiliki kemampuan dan keahlian lah yang akan diterima dalam proyek ini.

Minggu, 19 April 2015

FAKTA MERUPAKAN UNSUR DASAR DARI PENALARAN ILMIAH

Pengertian fakta
Fakta (bahasa Latin: factus) ialah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia atau data keadaan nyata yang terbukti dan telah menjadi suatu kenyataan. Catatan atas pengumpulan fakta disebut data.
Fakta seringkali diyakini oleh orang banyak (umum) sebagai hal yang sebenarnya, baik karena mereka telah mengalami kenyataan-kenyataan dari dekat maupun karena mereka dianggap telah melaporkan pengalaman orang lain yang sesungguhnya
Dalam istilah keilmuan fakta adalah suatu hasil pengamatan yang objektif dan dapat dilakukan verifikasi oleh siapapun.
Di luar lingkup keilmuan fakta sering pula dihubungkan dengan:
·         Suatu hasil pengamatan jujur yang diakui oleh pengamat yang diakui secara luas
·         Galat biasa terjadi pada proses interpretasi makna dari suatu pengamatan.
·         Kekuasaan kadang digunakan untuk memaksakan interpretasi politis yang benar dari suatu pengamatan.
·         Suatu kebiasaan yang diamati secara berulang; satu pengamatan terhadap fenomena apapun tidak menjadikan itu sebagai suatu fakta. Hasil pengamatan yang berulang biasanya dibutuhkan dengan menggunakan prosedur atau definisi cara kerja suatu fenomena.
·         Sesuatu yang dianggap aktual sebagai lawan dari dibuat
·         Sesuatu yang nyata, yang digunakan sebagai bahan interpretasi lanjutan
·         Informasi mengenai subjek tertentu
·         Sesuatu yang dipercaya sebagai penyebab atau makna

Fakta Ilmiah
Fakta ilmiah sering dipahami sebagai suatu entitas yang ada dalam suatu struktur sosial kepercayaan, akreditasi, institusi, dan praktik individual yang kompleks.
Dalam filsafat ilmu, sering dipertanyakan (yang paling terkenal adalah oleh Thomas Kuhn) bahwa fakta ilmiah sedikit banyak selalu dipengaruhi oleh teori (theory-laden), contohnya adalah, untuk mengetahui apa yang harus diukur dan bagaimana cara pengukurannya memerlukan beberapa asumsi mengenai fakta itu sendiri.

Pengertian penalaran
Penalaran (reasioning) adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli (otoritas).
Kesimpulan : Dalam proses berfikir dan ketika melakukan penalaran terhadap satu hal perlu adanya penyatuan antara bukti, fakta, petunjuk dan kesimpulan. Fakta adalah salah satu unsur dalam penalaran karena penalaran merupakan cara berfikir yang sestematis dan logis untuk itu diperlukan fakta agar tercipta penalaran yang logis untuk mendapat kesimpulan.

Sumber :

Selasa, 31 Maret 2015

CITUMANG PANGANDARAN




citumang merupakan desa yang terletak di sebelah barat laut pangandaran. Tempat ini merupakan obyek wisata yang patut anda kunjungi ketika anda berada dipangandaran. Karena tempat ini menyajikan spot spot keren dan seru untuk berenang, body raffting, maupun berfoto.

Anda bisa menikmati body raffting dan dapat merasakan sensasi melompat dari atas dengan ketinggian sekitar 7 meter dengan memanjat akar pohon. Selain itu juga ditempat ini anda dapat menikmati indahnya goa ataupun raffting santai menyusuri sungai sambil menikmati suasana air sungai dengan warna kebiru biruan yang indah dan suara kicauan burung dan aliran air.


menikmati suasana goa



 sensasi melompat


menikmati santainya body raffting


warna kebiruan yang indah sungai citumang

Senin, 30 Maret 2015

tulisan naratif

Pada pukul 11.30 WIB tepatnya hari minggu tanggal 22 maret 2015 sebuah pusat perbelanjaan yaitu margo city yg berada  dijalan margonda raya mengalami kebakaran.

Kebakaran terjadi disisi utara mall, disana terdapat tempat karaoke, restoran, dan bioskop.  Diduga kebakaran berasal dari tempat karaoke dan menjalar ke restoran dan bioskop yang berada di atas tempat karaoke tersebut. Akibatnya para pengunjung berhamburan keluar gedung. 

Sementara itu, beberapa mobil pemadam kebakaran pun dikerahkan untuk memadamkan api dan petugas sempat kesulitan memadamkan api  karena sulitnya mobil pemadam untuk melintas karena atap lobi terlalu rendah. bahkan ada salah satu mobil pemadam yang melaju kencang sehingga membentur atap lobi sehingga mengalami kerusakan. 

Awalnya penyebab kebakaran ini diduga berasal dari korsleting listrik di tempat karaoke, tetapi menurut Subarkah salah satu orang dapur ditempat karaoke tersebut bahwa sempat terlihat percikan api yang berasal dari gas di dapur.


sumber :
http://news.okezone.com/read/2015/03/22/338/1122569/kebakaran-margo-city-akibat-gas-dari-dapur-karaoke
http://www.liputan6.com/tag/margo-city

Minggu, 04 Januari 2015

Ketahanan Pangan


            Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan. Ketahanan pangan merupakan ukuran kelentingan terhadap gangguan di masa depan atau ketiadaan suplai pangan penting akibat berbagai faktor seperti kekeringan, gangguan perkapalan, kelangkaan bahan bakar, ketidak stabilan ekonomi, peperangan, dan sebagainya. Penilaian ketahanan pangan dibagi menjadi keswadayaan atau keswasembadaan perorangan (self-sufficiency) dan ketergantungan eksternal yang membagi serangkaian faktor risiko. Meski berbagai negara sangat menginginkan keswadayaan secara perorangan untuk menghindari risiko kegagalan transportasi, namun hal ini sulit dicapai di negara maju karena profesi masyarakat yang sudah sangat beragam dan tingginya biaya produksi bahan pangan jika tidak diindustrialisasikan. Kebalikannya, keswadayaan perorangan yang tinggi tanpa perekonomian yang memadai akan membuat suatu negara memiliki kerawanan produksi.

World Health Organization mendefinisikan tiga komponen utama ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan. Ketersediaan pangan adalah kemampuan memiliki sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Akses pangan adalah kemampuan memiliki sumber daya, secara ekonomi maupun fisik, untuk mendapatkan bahan pangan bernutrisi. Pemanfaatan pangan adalah kemampuan dalam memanfaatkan bahan pangan dengan benar dan tepat secara proporsional. FAO menambahkan komponen keempat, yaitu kestabilan dari ketiga komponen tersebut dalam kurun waktu yang panjang.

Kemiskinan


            Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

·         Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
·         Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang lainnya.
·         Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan di luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya bekerja melarang.
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
·         penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Contoh dari perilaku dan pilihan adalah penggunaan keuangan tidak mengukur pemasukan.
·         penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan pemasukan keuangan keluarga.
·         penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar. Individu atau keluarga yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga adalah contohnya.
·         penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi orang lain lainnya adalah gaji atau honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lain. Contoh lainnya adalah perbudakan.

·         penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.

Tenaga kerja


            Pada dasarnya tenaga kerja merupakan salah satu tolak ukur berhasil tidaknya suatu wilayah dalam penyediaan lapangan pekerjaan bagi para tenaga kerja yang tersedia, ketika suatu wilayah dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi para tenaga kerjanya maka angka pengangguran pun akan menurun. Akan tetapi sebaliknya justru masih banyak wilayah yang memiliki tenaga kerja yang tidak mendapatkan pekerjaan. Fakta yang terjadi adalah beberapa negara berkembang berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun gagal memperbaiki  taraf hidup (kesejahteraan) masyarakatnya (Todaro, 2000: 18). Jumlah penduduk pada suatu daerah yang memiliki penduduk padat mempunyai tantangan leih besar, karena tenaga kerja yang tersedia banyak tetapi yang sering terjadi adalah justru lapangan pekerjaannya yang kurang.
Kaum klasik seperti Adam Smith, David Ricardo dan Thomas Robert Malthus berpendapatan bahwa selalu ada perlombaan antara tingkat perkembangan output dengan tingkat perkembangan penduduk yang akhirnya dimenangkan oleh perkembangan penduduk. Karena penduduk juga berfungsi sebagai tenaga kerja, maka akan terdapat kesulitan dalam penyediaan lapangan pekerjaan. Kalau penduduk itu dapat memperoleh pekerjaan, maka hal ini akan dapat meningkatkan kesejahteraan bangsanya. Tetapi jika tidak memperoleh pekerjaan berarti mereka akan menganggur, dan justru akan menekan standar hidup bangsanya menjadi lebih rendah (Irawan dan Suparmoko, 2002:88).

Dimensi masalah ketenagakerjaan bukan hanya sekedar keterbatasan lapangan atau peluang kerja serta rendahnya produktivitas namun jauh lebih serius dengan penyebab yang berbeda-beda. Pada dasawarsa yang lalu, masalah pokoknya tertumpu pada kegagalan penciptaan lapangan kerja yang baru pada tingkat yang sebanding dengan laju pertumbuhan output industri. Seiring dengan berubahnya lingkungan makro ekonomi mayoritas negara-negara berkembang, angka pengangguran yang meningkat pesat terutama disebabkan oleh ”terbatasnya permintaan” tenaga kerja, yang selanjutnya semakin diciutkan oleh faktor-faktor eksternal seperti memburuknya kondisi neraca pembayaran, meningkatnya masalah utang luar negeri dan kebijakan lainnya, yang pada gilirannya telah mengakibatkan kemerosotan pertumbuhan industri, tingkat upah, dan akhirnya, penyedian lapangan kerja (Todaro,2000:307).